Macam-macam orang di dunia dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Orang yang pandai dan dia tahu bahwa dia itu pandai.
2. Orang yang pandai tapi dia tidak tahu bahwa dia itu pandai.
3. Orang yang bodoh dan dia tahu bahwa dia itu bodoh.
4. Orang yang bodoh tapi dia tidak tahu kalau dia itu bodoh.
Rabu, 31 Juli 2013
Kamis, 24 Mei 2012
Adab Dalam Belajar
A. Pegertian Adab Belajar
Adab adalah kata dalam bahasa arab yang arti secara lughohnya adalah "tata kerama/budi pekerti/etika." Luwais ma'luf menjelaskan dalam Munjid fil lughoh wal a'lam bahwa adab adalah ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu adab belajar dan adab menjadi hakim. Adapun dalam kitab At-Ta'rifat menjelaskan adab adalah pengetahuan tentang sesuatu yang dapat menjaga seseorang dari macam-macam perbuatan salah.
Sedangkan belajar menurut kamus besar Bahasa Idonesia adalah:"Berusaha untuk mencari kepandaian atau ilmu." Hintzman berpendapat dalam bukunya yang berjudul Psycology of Learning and Memory bahwa belajar adalah Berubahnya diri seseorang karena suatu pengalaman yang bisa merubah prilakunya. James O-Wittaker mengatakan bahwa: belajar adalah metode merubah prilaku seseorang dengan cara memberi pengalaman dan ujian. Adapun dalam Tafsir Al-Qosimi Juz 11 Muhammad Jamaluddin mengatakan bahwa belajar adalah mencari jalan keluar suatu masalah dengan daya dan upaya.
Dari pendapat-pendapat di atas bahwa adab dalam belajar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan budi pekerti dan menghidarkan dari kesalahan-kesalahan ketika merubah diri seseorang dengan cara memperoleh pengalaman dan ujian.
B. Adab Dalam Belajar
Dalam hal ini ada tiga macam
1. Adab pelajar pada dirinya sendiri. diantaranya: Tidak memanggakan diri sendiri, tawadlu', jujur dan membersihkan hati dari sifat-sifat jelek serta membersihkan dari hadats agar dapat dengan mudah menerima ilmu.
2.Adab pelajar dengan gurunya. diantaranya: Tawadlu' apabila dihadapan guru, tidak bergurau ketika diajar, memandang guru dengan pandangan memuliakan.
3. Adab pelajar dengan teman-temannya. Tidak merendahkan dan memuji salah satu teman, tidak merendahkan teman yang IQ rendah,
Adab adalah kata dalam bahasa arab yang arti secara lughohnya adalah "tata kerama/budi pekerti/etika." Luwais ma'luf menjelaskan dalam Munjid fil lughoh wal a'lam bahwa adab adalah ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu adab belajar dan adab menjadi hakim. Adapun dalam kitab At-Ta'rifat menjelaskan adab adalah pengetahuan tentang sesuatu yang dapat menjaga seseorang dari macam-macam perbuatan salah.
Sedangkan belajar menurut kamus besar Bahasa Idonesia adalah:"Berusaha untuk mencari kepandaian atau ilmu." Hintzman berpendapat dalam bukunya yang berjudul Psycology of Learning and Memory bahwa belajar adalah Berubahnya diri seseorang karena suatu pengalaman yang bisa merubah prilakunya. James O-Wittaker mengatakan bahwa: belajar adalah metode merubah prilaku seseorang dengan cara memberi pengalaman dan ujian. Adapun dalam Tafsir Al-Qosimi Juz 11 Muhammad Jamaluddin mengatakan bahwa belajar adalah mencari jalan keluar suatu masalah dengan daya dan upaya.
Dari pendapat-pendapat di atas bahwa adab dalam belajar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan budi pekerti dan menghidarkan dari kesalahan-kesalahan ketika merubah diri seseorang dengan cara memperoleh pengalaman dan ujian.
B. Adab Dalam Belajar
Dalam hal ini ada tiga macam
1. Adab pelajar pada dirinya sendiri. diantaranya: Tidak memanggakan diri sendiri, tawadlu', jujur dan membersihkan hati dari sifat-sifat jelek serta membersihkan dari hadats agar dapat dengan mudah menerima ilmu.
2.Adab pelajar dengan gurunya. diantaranya: Tawadlu' apabila dihadapan guru, tidak bergurau ketika diajar, memandang guru dengan pandangan memuliakan.
3. Adab pelajar dengan teman-temannya. Tidak merendahkan dan memuji salah satu teman, tidak merendahkan teman yang IQ rendah,
Senin, 26 Maret 2012
Cinta Kholiq atau Mahluk
Pada awal semua ruh manusia diciptakan, mereka semua bersumpah janji mencintai Allah.
Tapi setelah Allah menciptakan surga, mereka berpindah mencintai surga. Dan setelah Allah menciptakan neraka, mereka takut pada neraka tidak kepada Allah. Kenudian setelah Allah menciptakan dunia, mereka berpindah lebih mencintai dunia (Harta, tahta dan wanita).”
Masih berapakah manusia yang beribadah karena benar-benar cinta dan takut kepada Allah…???
SYUKUR
Allah Berfirman:
لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذاب لشديد
"Jika kamu semua bersyukur (atas nikmat yang Aku berikan), niscaya Aku akan menambah. Dan Jika kamu semua kufur (atas nikmat yag Aku berikan), sesungguhnya siksaKu sangat berat".
Ayat diatas sudah sangat jelas, bahwa barang siapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat tersebut. Tapi barang siapa yang kufur atas nikmat Allah, maka Allah pasti akan menyiksa dengan sangat berat.
Perlu diketahui bagi kita umat muslim, bahwa nikmat yang paling besar adalah berupa Iman dan Islam. Jadi, sangat buruk dan sangat berdosa jika sudah diberi nikmat berupa Iman dan Islam tapi kita menyia-nyiakannya.
Selanjutnya yaitu nikmat yang bersifat duniawi yaitu berupa rizki, kesehatan dan lain-lain yang tak terhitung bayaknya.
Kawan-kawan seiman, bahwa syukur terdiri dari tiga tahap yaitu:
لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذاب لشديد
"Jika kamu semua bersyukur (atas nikmat yang Aku berikan), niscaya Aku akan menambah. Dan Jika kamu semua kufur (atas nikmat yag Aku berikan), sesungguhnya siksaKu sangat berat".
Ayat diatas sudah sangat jelas, bahwa barang siapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat tersebut. Tapi barang siapa yang kufur atas nikmat Allah, maka Allah pasti akan menyiksa dengan sangat berat.
Perlu diketahui bagi kita umat muslim, bahwa nikmat yang paling besar adalah berupa Iman dan Islam. Jadi, sangat buruk dan sangat berdosa jika sudah diberi nikmat berupa Iman dan Islam tapi kita menyia-nyiakannya.
Selanjutnya yaitu nikmat yang bersifat duniawi yaitu berupa rizki, kesehatan dan lain-lain yang tak terhitung bayaknya.
Kawan-kawan seiman, bahwa syukur terdiri dari tiga tahap yaitu:
- As-Syukru Bil-Lisan (Syukur dengan ucapan)
Apabila kita mendapatkan nikmat dari Allah maka seharusnya kita mengucap hamdalah. - As-Syukru Bil-Qolbi (Syukur dalam hati)
Yaitu dengan memperbanyak Syukur dan dzikir kepada Allah di dalam hati. - As-Syukru Bil-Arkan (Syukur dengan tindakan)
Yaitu seperti menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya karena kita telah diberi nikmat berupa Iman dan Islam. Membayar zakat, Sedekah atas rizki yang telah diberikan kepada kita.
Jumat, 16 Maret 2012
Konsep Persaudaraan Dalam Islam
Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Ilsam mengajarkan tiga konsep yaitu:
- Ukhwah Islamiyah (saudara sesama orang muslim)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat".
Dari keterangan ayat di atas, dapat dipahami bahwa setiap orang yang beriman kepada Allah adalah saudara. maka dari itu wahai umat Islam seluruh dunia, janganlah saling memusuhi antara umat Islam yang satu dengan yang lain, kelompok yang satu dengan yang lain, aliran yang satu dengan yang lain. karena ayat di atas mengatakan "setiap orang yang beriman adalah saudara" tak memandang dari kelompok Islam apa? aliran apa?
- Ukhwah Wathoniyah (saudara sesama tanah air)
Sebagai umat beragama, berbangsa dan bernegara tentu kita tidak lepas berhubungan dengan orang yang bermacam-macam keyakinannya. lebih-lebih di Indonesia negara yang plural yang didalamnya terdiri dari bermacam-macam suku dan agama. Maka dari itu, hidup antar umat beragama harus kita jalin dengan sebaik-baiknya. Dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)"
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah : 9)"
Ibnu Abbas menafsirkan QS al-Mumtahanah 60:8-9 dengan mengatakan bahwa “Allaah tidak melarang untuk berteman dan menolong mereka (orang-orang makkah) yang berbuat adil dan menepati janji kepada Nabi dan sahabatnya mereka yaitu Bani Khuza’ah, kaum Hilal ibn Uwaimir, khuzainah, bani madlaj. Mereka telah berbuat baik kepada Rasul sebelum adanya perjanjian Hudaibiyah yang tidak berusaha membunuhnya, tidak mengeluarkannya dari makah. Akan tetapi Allah hanya melarang untuk berteman dan menolong mereka (ahli makah) yang secara terang-terangan mengusir Nabi dari Makah.[9]
Jumhur (mayoritas) ulama’ tafsir sepakat bahwa berteman dengan orang non muslim yang berbuat baik, menolong, berbuat adil kepada umat Islam itu diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menjalin hubungan dengan mereka dalam tataran sosial, akan tetapi tidak membolehkan untuk berteman dengan mereka yang secara terang-terangan memusuhi, memerangi umat Islam, atau yang mengusir paksa penduduk dari suatu negeri.
- Ukhwah Basyariyah (saudara sesama manusia)
Allah Berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)"
Dari keterangan ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah menciptan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah supaya saling mengenal antara suku dengan suku yang lain dalam negri dan satu bangsa dengan bangsa yang lain di dunia. Tidak saling bermusuhan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dan satu negara dengan negara yang lain seperti yang terjadi pada saat ini. Karena menurut Allah SWT kemuliaan seseorang tidak dilihat dari segi bangsa/negara yang maju, yang berkembang, yang terbelakang dan tidak dari sisi kekayaan, kemiskinan dan jabatan. Namun kemuliaan seseorang dilihat dari segi ketakwaannya kepada Allah SWT.
Dalam tafsir Ruhul Ma'ani dijelaskan bahwa ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi rahimahulah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa kalian.
Selasa, 13 Maret 2012
مَبَادِئُ التَّرْبِيَّةِ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ
![]() | ||
فِى حَيَاةِ الْيَوْمِيَّةِ الْأَنَ، نَجِدُ صِيْغَةَ التَّرْبِيَّةِ الْمُتَعَدِّدَةِ فِى الْعَالَمِ وَمِنْ أَهَمِّهَا صِيْغَةُ التَّرْبِيَّةِ الْإِسْلاَمِيَّةِ، فَفِى الْإِسْلاَمِ أَنَّهَا لَيْسَتْ إِلاَّ أَنْ تُؤَدِّى بِحَدِّ الْأَوْقَاتِ الْمَعِيْنَةِ فَحَسِبَ، بَلْ أَنَّهَا مُؤَدَّةٌ وَمَقَامَةٌ طَالَ مَا الْحَيَاة، فَاعْلَمُوْا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ لَنْ تَتَقَدَّمَ الْبِلاَدُ إِنْ كَانَ مُوَاطِنُهَا جُهَلاَءَ سُفَهَاءَ، وَمَتَى تَرَعْرَعَتْ الْأُمَّةُ دُوْنَ تَطَوُّرِ طَاقَةِ قَوَادِهَا وَعُمُوْدِهَا السَّافِلَةِ؟ كَيْفَ يُفَكِّرُ الْقُوَادُ الْأُمَّةِ وَلَيْسَ لَهُمْ عُلُوْمٌ وَمَعْرِفَةٌ؟·لِذَلِكَ، رَفَعَ اللهُ مَنَازِلَ الْعِلْمِ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ، جَعَلَ اللهُ إِدْرِيْسَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِدُرُوْسِهِ نَحْوَ الْعِلْمِ فِى الْجَنَّةِ نَبِيًّا وَرَسُوْلاً، وَاتَّخَذَ اللهُ سُلَيْمَانَ مَلِكاً غَنِيًّا وَرَسُوْلاً نَبِيًّا بِمَاذَا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ؟ فَطَبْعًا بِعِلْمِهِ وَمَعْرِفَتِهِ، أَيَّدَ اللهُ بِهَذَا فِى قَوْلِهِ "...يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ" وَاعْلَمُوْا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ... أَنْ أَظْهَرْتَ الْعُلُوْمَ وَالْمَعَارِفَ عَلَى الْخَيْرِ وَالسُّوْءِ، إِنَّ لَكُمْ فِيْهَا نِعْمَةً وَنِقْمَةً، رَحْمَةً وَفِتْنَةً. كَمْ رَأَيْنَا مِنْ جَهَابَذَةِ الْعُلَمَاءِ اْلعَلاَّمَةِ هُمْ يُفَضِّلُوْنَ وَيُعَظِّمُوْنَ عُقُوْلَهُم الْمُتَنَاهِيَةَ ، وَيُهْمِلُوْنَ اللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ، يَنْسَوْنَ حَقِيْقَةَ الْإِلَهِيَّةِ وَيَغْفِلُوْنَ عَنْ ضَعْفِ أَنْفُسِهِمْ وَيَسْهَوْنَ طَرِيْقَ الْحَقِّ، يَعْتَقِدُوْنَ عُقُوْلَهُمْ وَكَأَنَّهَا مَنْبَعٌ مِنْ مَنَابِعِ عُلُوْمِهِمْ مُجَرَّدَةٍ مَعَ أَنَّ أَفْهَامَنَا بَائِقَةً لاَ قِيْمَةَ لَهَا. فَلِذَلِكَ لاَبُدَّ مِنَ الْوَسِيْلَةِ مِنْ أَنْ نَجْعَلَ رَائِجَةً ثَمِيْنَةً وَتِلْكَ الْوَسِيْلَةُ هِيَ الْقُرْأَنُ الْكَرِيْمُ.·لِذَلِكَ، اِثْبِتُوْا عَلَى عُزُوْمِكُمْ حَزَمَ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَدَقِّقُوْا بُحُوْثَهُ عِمَاقَ الْإِمْكاَنِ، فَوَجَدْتُمْ مِنْهُ طُوْلَ الْإِطْمِئْنَانِ وَتَثْبِيْتَ صِحَّتِهِ الْحَقِيْقَةِ. لِأَنَّ فِى دَسْتُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِي هُوَ الْقُرْأَنُ الْكَرِيْمُ عُلُوْمٌ سَرِيَّةٌ وَرَفَاهِيَّةٌ مَكْتُوْمَةٌ. تَحْتَاجُ إِلَى الدَّقَّةِ وَالْبَيَانِ.فَلاَ تُوَلِّهِ عَلَى السَّيِّئَةِ وَالضَّلاَلَةِ، وَاجْعَلُوْاهُ وَسِيْلَةَ سَعَادَتِنَا الدُّنْيَاوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ، وَحَيَّ عَلَى مُدَاوَمَةِ التَّدَبُّرِ وَتَعَوُّدِ مَعَانِيْهِ الَّتِى لاَتُحْصَى عَجَائِبُهَا.
Sabtu, 03 Maret 2012
Penyebab Takabbur
(Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ” [Luqman : 18])
Manusia hidup tidak lepas dari penyakit-penyakit hati yang akan menyengsarakan dirinya nanti kelak di akhirat. diantara penyakit hati itu adalah Takabbur (sombong). adapun penyebab-penyebab takabbur adalah:
1. Katsrotul Ilmi (banyak ilmu)
Dengan banyak ilmu manusia kadang meremehkan orang lain, sehingga memandang semua orang lebih rendah darinya.
2. Katsrotul A'mal (banyak amalnya)
Banyak amal, ibadah dapat mengakibatkan orang bersikap sombong, karena menganggap dirinyalah yang paling banyak amalnya.
3. Katsrotul Amwal (banyak harta)
Disekiar kita banyak kita lihat orang yang kaya menganggap dirinya yang paling terpandang di daerahnya karena banyak harta. Mereka tidak sadar bahwa kelebihan yang mereka dapat adalah rizki dari Allah. Orang yang sombong karena banyak harta seumpama kacang yang lupa akan kulitnya.
4. Katsrotul A'wan (banyak pendukung)
Banyak pendukung dapat menyebabkan sifat sombong. Banyak kita lihat pemimpin dalam masyarakat maupun pemerintahan. karena mendapat dukungan masyarakat luas sehingga menjadi sombong dan lupa tugas utamanya sebagai pemimpin masyarakat.
5. Al-Jamal (ketampanan/kecantikan)
Karena merasa paling tampan, paling cantik dan mendapat pujian dari teman-teman dekat mereka, sehingga menganggap dirinya paling diperhatikan.
6. Al-Quwwatu (kekuatan)
Kekuatan dalam politik, kekuatan dalam mempengaruhi masyarakat sehingga merasa dirinya paling hebat, paling kuat.
7. Katsrotut Talaamidz (banyak murid)
Dalam lembaga pendidikan umum, madrasah maupun pondok pesantren, seorang kepala lembaga kadang kala merasa bangga dengan banyaknya siswa yang belajar di lembaganya, sehingga timbullah rasa takabbur yang akan merugikan dirinya sendiri maupun lembaganya.
Manusia hidup tidak lepas dari penyakit-penyakit hati yang akan menyengsarakan dirinya nanti kelak di akhirat. diantara penyakit hati itu adalah Takabbur (sombong). adapun penyebab-penyebab takabbur adalah:
1. Katsrotul Ilmi (banyak ilmu)
Dengan banyak ilmu manusia kadang meremehkan orang lain, sehingga memandang semua orang lebih rendah darinya.
2. Katsrotul A'mal (banyak amalnya)
Banyak amal, ibadah dapat mengakibatkan orang bersikap sombong, karena menganggap dirinyalah yang paling banyak amalnya.
3. Katsrotul Amwal (banyak harta)
Disekiar kita banyak kita lihat orang yang kaya menganggap dirinya yang paling terpandang di daerahnya karena banyak harta. Mereka tidak sadar bahwa kelebihan yang mereka dapat adalah rizki dari Allah. Orang yang sombong karena banyak harta seumpama kacang yang lupa akan kulitnya.
4. Katsrotul A'wan (banyak pendukung)
Banyak pendukung dapat menyebabkan sifat sombong. Banyak kita lihat pemimpin dalam masyarakat maupun pemerintahan. karena mendapat dukungan masyarakat luas sehingga menjadi sombong dan lupa tugas utamanya sebagai pemimpin masyarakat.
5. Al-Jamal (ketampanan/kecantikan)
Karena merasa paling tampan, paling cantik dan mendapat pujian dari teman-teman dekat mereka, sehingga menganggap dirinya paling diperhatikan.
6. Al-Quwwatu (kekuatan)
Kekuatan dalam politik, kekuatan dalam mempengaruhi masyarakat sehingga merasa dirinya paling hebat, paling kuat.
7. Katsrotut Talaamidz (banyak murid)
Dalam lembaga pendidikan umum, madrasah maupun pondok pesantren, seorang kepala lembaga kadang kala merasa bangga dengan banyaknya siswa yang belajar di lembaganya, sehingga timbullah rasa takabbur yang akan merugikan dirinya sendiri maupun lembaganya.
Rabu, 29 Februari 2012
Lima Kriteria Dalam Mencari Guru
Belajar adalah hukumnya wajib bagi setiap Muslim. baik laki-laki maupun perempuan.
Dalam mempelajari Ilmu suluk Ilalloh, kita tentu membutuhkan guru dan guru itu harus memenuhilima kriteria yaitu:
1. Tarku syak ilal yaqin: yaitu seorang yang akan kita jadikan guru kita harus mengajak kita untuk meninggalkan keraguan dan mengajak kepada keyakinan.
2. Minar riya ilal ikhlas: Yaitu seorang guru harus mengajak murid untuk meninggalkan sifat pamer dan menuju sifat ikhlas.
3. Minar rughbah ila zuhdi: yaitu seorang guru harus membimbing dan mengajak murid untuk menjauhi sifat gila dunia menuju sifat zuhud (mengambil harta sekedar untuk keperluan sehari-hari guna beribadah kepada Allah)
4. Minal kibri ila tawadlu: Yaitu guru harus punya sifat menjauhi Sombong menuju tawadlu dan mengajak murid untuk melakukan itu.
5. Minal adawah ila nasihah: Yaitu menjauhi permusuhan dan menuju kerukunan. baik sesama Agama, sesama tanah air dan sesama manusia seluruh alam.
Dalam mempelajari Ilmu suluk Ilalloh, kita tentu membutuhkan guru dan guru itu harus memenuhilima kriteria yaitu:
1. Tarku syak ilal yaqin: yaitu seorang yang akan kita jadikan guru kita harus mengajak kita untuk meninggalkan keraguan dan mengajak kepada keyakinan.
2. Minar riya ilal ikhlas: Yaitu seorang guru harus mengajak murid untuk meninggalkan sifat pamer dan menuju sifat ikhlas.
3. Minar rughbah ila zuhdi: yaitu seorang guru harus membimbing dan mengajak murid untuk menjauhi sifat gila dunia menuju sifat zuhud (mengambil harta sekedar untuk keperluan sehari-hari guna beribadah kepada Allah)
4. Minal kibri ila tawadlu: Yaitu guru harus punya sifat menjauhi Sombong menuju tawadlu dan mengajak murid untuk melakukan itu.
5. Minal adawah ila nasihah: Yaitu menjauhi permusuhan dan menuju kerukunan. baik sesama Agama, sesama tanah air dan sesama manusia seluruh alam.
Selasa, 22 November 2011
اداب التعلم وفضيلتها
أ. تعريف اداب التعلم
الأداب جمع من الأدب، الأدب تطلق على العلوم والمعارف عموما او على المستظفر منها فقط. ويطلقونها على ما يليق بالشىء او الشخص فيقال اداب الدرس واداب القاضى.[1] وفى التعريفات، الأدب هو عبارة عن معرفة ما يحترز به عن جميع أنواع الخطإ.[2]
واما التعلم يظن بعض الناس أنه تجميع وتحفيظ الحقيقة المكتوب فى المادة فقط، ومن يظن كذلك عادة يشعر عجبا اذا استطاع اولاده أن تذكر باللسن بما فى المادة او علم أستاذها.[3] وقال Hintzman فى كتابه " The Psycology of Learning and Memory " التعلم هو تغيير فى نفس الانسان او الحيوان بسبب المخبرات يتغير حالهما.[4] وقال ايضا James O- Wittaker التعلم هو طريقة التغيير فى حال شخص بواسطة تجربة وتمرينات.[5] وفى تفسير القاسمى التعلم هو طلب خروج الشيء الذى بالقوة الى الفعل.[6]
ومن الأراء المذكور يُعرف أن اداب التعلم هى كل ما يليق بالأخلاق ويحترز عن جميع الخطيئة فى وقت طريق التغيير فى حال شخص بواسطة المخبرات او التجربة والتمرينات. ويتعود بها لأن العادة هى العمل الذى اذا تكرر حتى صار الاتيان به سهلا.[7]
ب. فضيلة اداب التعلم
اذا نتكلم فضيلة اداب التعلم لا يخلو أن نتكلم اداب التعلم أولا لأنهما معلق بينهما. وللمتعلم اداب فى تعلمه، ويوضح الباحث ادابا فى نفس المتعلم وادابا مع أستاذه وادابا مع اخوانه ليحصل فضيلة وعلما فى تعلمه.
أما اداب المتعلم فى نفسه فكثيرة: منها ترك العجب ومنها التواضع والصدق ليكون محبوبا موثوقا به.[8] منها أن يطهر قلبه من الأدناس ليصلح لقبول العلم وحفظه واستثماره كقول النبى صلى الله عليه وسلم " ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد واذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب".[9] وأن يحسن النية فى طلب العلم وأن يبادر بتحصيل العلم شبابه وأن يقنع من القوت واللباس بما تيسر. لأن امامنا الشافعى رضى الله عنه قال: " لا يفلح من طلب العلم بعزة النفس وسعة المعيشة، ولكن من طلبه بذلة النفس وضيق العيش وخدمة العلماء افلح"، وأن يقلل الأكل والشرب فان من فوائد قلة الأكل صحة البدن ودفع الأمراض البدنية.[10] وأن يؤخذ نفسه بالورع والاحتياط فى جميع شأنه ليستنير قلبه ويصلح لقبول العلم ونوره والنفع به.[11]
أما اداب المتعلم مع أستاذه فكثيرة ايضا: منها أن يعتقد أن فضله أكبر من فضل والديه عليه لأنه يربى روحه، ومنها الحضوع امامه والجلوس فى درسه بالأدب وحسن الاصغاء الى ما يقوله، وترك المزاح. وألا يمدح غيره من العلماء بحضرته لألا يفهم أستاذه أنه يذمه.[12] وأن ينظر اليه بعين الاجلال والتعظيم ويعتقد فيه درجة الكمال فان ذلك اقرب الى نفعه به كقول ابو يوسف " سمعت السلف يقولون من لا يعتقد جلالة أستاذه لا يفلح".[13] وأن يتصبر على جفوة تصدر من الشيخ او سوء خلقه ولا يصده ذلك عن ملازمة واعتقاد كماله، ويتأول لأفعال التى يظهر أن الصواب خلافها على أحسن تأويل واذا جفاه الشيخ ابتدأ هو بالاعتذار وأظهر الذنب له والعتب عليه فان ذلك أبقى لمودة شيخه على توفيقه فيما فيه فضيلة وعلى توبيحه على ما فيه نقيصة او على كسل يعتريه او على تقصير يعانيه او غير ذلك مما فى ايقافه عليه وتوبيحه ارشاده واصلاحه، ويعد ذلك من الشيخ من نعم الله تعالى باعتناء الشيخ به ونظره اليه فان ذلك أميل لقلب الشيخ وأبعث على الاعتناء بمصالحه.[14]
وأما ادابه مع اخوانه أن يخترمهم وترك احتقار واحد منهم وترك الاستعلاء عليهم، وألايسخر ببطىء الفهم منهم، وألايفرح اذا وبخ الأستاذ بعض القاصرين لكيلا ينشأ البغض والعداوة.[15]
فضيلة التعلم يتنال بالأداب فى التعلم لأن الأداب أهم. وفضيلتها كما روي عن أبى هريرة رضى الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا حفتهم الملائكة ونزلت عليهم السطينة وغشيتهم الرحمة وذكرهم الله فيمن عنده، رواه مسلم.[16] قال الفقيه رحمه الله تعالى: يقال من جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة فى الطاعة واجتناب المحارم ومن جلس مع العلماء زاده الله العلم والورع.[17]
وفى الخبر فى قوله صلى الله عليه وسلم " من سلك طريقا لطلب فيه علما سلك الله به طريقا الى الجنة ".[18] وقال صلى الله عليه وسلم من جاءه الموت وهو يطلب العلم ليحي به الاسلام فبينه وبين الأنبياء فى الجنة درجة واحدة. وقال عطاء: مجلس علم يكفر سبعين مجلسا من مجالس اللهو، وقال عمر رضى الله عنه: موت الف عابد قائم الليل صائم النهار أهون من موت عالم بصير بجلال الله وحرامه، وقال الشافعى رضى الله عنه: طلب العلم أفضل من النافلة.[19]
وقال رسول صلى الله عليه وسلم: من تعلم العلم وتواضع فى العلم وعلمه عباد الله يريد ما عند الله لم يكن فى الجنة أفضل ثوابا منه ولا أعظم منزلة ولم يكن فى الجنة منزلة ولا درجة رفيعة نفسية الا كان له فيها اوفر النصيب وشرف المنازل.[20]
قال الفقيه: من انتهى الى العلم وجلس معه ولا يقدر على أن يحفظ العلم فله سبع كرمات أولها فضل المتعلمين والثنى مادام جالسا عنده كان محبوسا عن الذنوب والخطايا والثالث اذا خرج من منزله تنزل عليه الرحمة والرابع اذا جلس عنده فتنزل عليهم الرحمة فتصيب به ببركتهم والخامس مادام مستمعا تكتب له الحسنة والسادس تحف عليهم الملائكة باجنحتها رضا وهو فيهم والسابع كل قدم يرفعه ويضعه يكون كفارة للذنوب ورفعا للدرجات وزيادة فى الحسنات ثم يكرمهم الله تعالى بست كرمات أخرى أولها يكرمه بحب شهود مجلس العلماء والثانى كل من يقتدى بهم فله مثل أجورهم من غير أن ينقص من أجورهم شىء والثالث لو غفر لواحد منهم يشفع له والرابع يبرد قلبه من مجلس الفساق والخامس يدخل فى طريق المسلمين والصالحين والسادس يقيم أمر الله تعالى لأن الله تعالى قال كونوا ربا نيين بما كنتم تعلمون الكتاب يعنى العلماء والفقهاء هذا لمن لم يحفظ شيأ وأما الذى يحفظ فله أضعاف مضاعفة.[21]
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من صلى الصلاة مع الجماعة وجلس فى حلقة العلم وسمع كلام الله وعمل به أعطاه الله تعالى ستة أشياء الرزق من الحلال وينجو من عذاب القبر ويعطى كتابه بيمينه ويمر على الصراط كالبرق الحاطف ويحشر مع النبيين وبنى الله بيتا فى الجنة من ياقوتة حمراء له أربعون بابا.[22]
اذا يتفكر تلك الفضيلة المذكورة لا يمكن تناولها الا بالأدب. نعرف فى هذا الزمان الأن أكثر من الطلاب وصلوا الى النجاح فى الجاه والمرتبة بعد فراغهم من التعلم فى المدرسة. وهل يتناولون الفضيلة كما أوضح القرأن والحديث اذا تعلموا بغير الأداب.
[1] . لويس معلوف."النجد فى اللغة والاعلام". الطبعة 34، ص 5، بيرت: دار المشرق. 1994
[2] . الجرجانى، على بن محمد بن على.. التعريفات. الطبعة الأولى. ص 29. بيرت: دار الكتب العربى. 1405 هـ
[4] . نفس المراجع، ص 89
[5] . Drs. Wasty Soemanto، M.pd. " Psikologi Pendidikan". cet 5. hal 104. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2006
[6] . القاسمى، محمد جمال الدين، " تفسير القاسمى"، الجزء 11، الطبعة 2،ص 79. 1398 هـ \ 1978 م
[7] . Romli Arif." Ahlak Tasawuf".HAL 18. Jombang: BMT Muamalah IKAHA. 2004
[8] . المسعودى، حافظ حسن. " تيسير الخلاق فى علم الأخلاق ". ص 5. مكتبة محمد بن احمد نبهان: سورابايا
[9] . محمد بن عبد القادر. " بيان العلم وفضله". ص 21- 22. العثمانية: كديرى
[10] . أشعرى، شيخ محمد هاشم. " اداب العالم والمتعلم". ص 25-26.
[11] . نفس المراجع. ص 27.
[12] . حافظ حسن المسعودى. " تيسير الخلاق فى علم الأخلاق ". ص 6. مكتبة محمد بن احمد نبهان: سورابايا
[13] . أشعرى، شيخ محمد هاشم. " اداب العالم والمتعلم". ص 30.
[14] . نفس المراجع. ص 31.
[15] . حافظ حسن المسعودى. " تيسير الخلاق فى علم الأخلاق". ص6
[16] . العدوى، محمد أحمد. " مفتاح الخطاب ". الطبعة الأولى. ص 13. الإستقامة: مصر. 1352 هـ
[17] . السمرقندى، الشيخ نصر بن محمد بن ابراهيم. "تنبيه الغافلين". ص 160. الهدا.ية: سورابايا
[18] . الغزالى. " احياء علوم الدين". الجزء 1. ص 9. الهداية: سورابايا.
[19] . نفس المراجع. ص 10.
[20] . الجارونى، احمد بن أسمونى. " وعلم ادم الاسماء". ص 22. هداية الطلاب كديرى.
[21] . السمرقندى، الشيخ نصر بن محمد بن ابراهيم. "تنبيه الغافلين". ص 159. الهدا.ية: سورابايا
[22] . الخوبرى، عثمان بن حسن بن احمد الشاكر. " درة الناصحين". ص 15. الهداية: سورابايا.
Sabtu, 05 November 2011
Aamaul Husna
هو الله الذي لآ اله إلا هو | يا رحمن | يا رحيم | ||
يا ملك | يا قدوس | يا سلام | يا مؤمن | يا مهيمن |
يا عزيز | يا جبار | يا متكبر | يا خيا ق | يا بارئ |
يا مصور | يا غفار | يا قهار | يا وهاب | يا رزاق |
يا فتاح | يا عيا م | يا قابض | يا باسط | يا خافض |
يا رافع | يا معز | يا مذل | يا سميع | يا بصير |
يا حكم | يا عدل | يا لطيف | يا خبير | يا حليم |
يا عظيم | يا غفور | يا شكور | يا علي | يا كبير |
يا حفيظ | يا مقيت | يا حسيب | يا جليل | يا كريم |
يا رقيب | يا مجيب | يا واسع | يا حكيم | يا ودود |
يا مجيد | يا باعث | يا شهيد | يا حق | يا وكيل | |||||
يا قوي | يا متين | يا ولي | يا حميد | يا محصي | |||||
يا مبدئ | يا معيد | يا محيي | يا مميت | يا حي | |||||
يا قيوم | يا واجد | يا ماجد | يا واحد | يا أحد | |||||
يا صمد | يا قادر | يا مقتدر | يا مقدم | يا مؤخر | |||||
يا أول | يا آخر | يا ظاهر | يا باطن | يا والي | |||||
يا متعالي | يا بر | يا تواب | يا منتقم | يا عفو | |||||
يا رؤوف | مالك الملك | ذو الجلال والإكرام | |||||||
يامقسط | يا جامع | يا غني | يا مغني | يا مانع | |||||
يا ضار | يا نافع | يا نور | يا هادي | يا بديع | |||||
يا باقي | يا وارث | يا رشيد | يا صبور | ||||||
Langganan:
Postingan (Atom)
